PETA LOKASI
VIDIO
Circle Gallery
"
});
‹
›
Shooting
Racing
News
Bertepatan dengan masuknya siswa baru, sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo dalam MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu lebih dikenal dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya diisi dengan kegiatan, gerakan membaca buku.
Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.
Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.
Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.
Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa
Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.
Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.
Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.
Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa
BERITA - INSPIRASI
Keluarga di Sidoarjo Ini Punya Cara Unik Peringati Hari Buku Sedunia SURYA.co.id|SIDOARJO - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan tanggal 23 April sebagai World Book Day and Copyright Day atau Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia. Peringatan tersebut memiliki arti penting bagi sebagian orang, termasuk di antarnya sebuah keluarga di Sidoarjo, Jawa Timur ini.
Muhammad Fauzi (34) mengajak istrinya Imroatul Mufidah (28) dan dua putranya Faris Nuruddin (10) dan Muhammad Noufal Ibrahim atsani melakukan aksi nyata dengan sosialisasi Hari buku Sedunia dengan cara membagikan sticker yang totalnya sekitar 400 lembar,dan tulisan hari Buku Sedunia yang di tempel pada sterofoom dan dipegangi dua putranya dibawah roda tiga Perpustakaan keliling miliknya.
Sosialisasi yang digelar dilampu merah alun-alun Sidoarjo ini menarik perhatian para pengguna jalan, dan tampak dari mereka banyak yang penasaran atas kegiatan satu keluarga ini.
Tidak cukup sampai disitu, baju fauzi juga tampak ditempeli beberapa aksara atau abjad dan angka yang dimana ini merupakan simbol sebagai buku saat ini yang dimana buku-buku tersebut jarang dibaca.
Begitupun dengan kedua putranya yang memakai topi khas petani bertuliskan sak iki jamane moco/sekarang zamannya membaca, dibawah topinya juga tampak beberapa aksara yang bergantungan.
Aksi ini terbilang sangat unik dan mencuri perhatian banyak orang, karena hanya dilakukan oleh satu keluarga. Adapun Fauzi sebagai pengembang budaya baca dan pemilik selogan sak iki jamane moco berharap dengan adanya aksi ini, budaya gemar membaca akan bisa lebih meningkat lagi tukasnya.
Fauzi juga menuturkan harapannya kepada pemerintah kaupaten Sidoarjo untuk menaruh atau mendirikan titik-titik spot baca di pusat-pusat aktifitas masyarakat. karena hal ini dirasa fauzi akan sangat bisa membantu guna meningkatkan masyarakat terhadap budaya gemar membaca.
Untuk melihat aksi satu keluarga ini, anda bisa langsung melihatnya pada vidio di bawah ini.
BERITA - INSPIRASI - KEGIATAN
Berbicara tentang literasi untuk para pegiatnya memang tidak akan pernah bosan. Apalagi sekarang ini, literasi sudah menjadi endemi—yang mewabah menjadi salah satu ‘penyakit’—yang mudah menular dari satu orang ke orang lain. Kini literasi tidak hanya disukai oleh kalangan yang dekat dengan buku saja, masyakarat dari banyak tingkatan pun mulai terjangkiti ‘penyakit’ literasi. Wabah tersebut ternyata juga sampai di Kota Udang Sidoarjo, dan dibangunkan kembali oleh anak-anak muda yang menamakan diri sebagai Komunitas Malam Puisi Sidoarjo.
Malam Puisi Sidoarjo yang menyajikan acara sharing proses kreatif menulis dengan mengundang penulis berbakat dari Sidoarjo dan merayakan puisi ini digelar pada Minggu, 20 Maret 2016 dengan dihadiri oleh 20 peserta. Acara yang menyuguhkan cara mencintai literasi dengan unik ini sebelumnya sudah menyelenggarakan Malam Puisi Sidoarjo pertama dan kedua.
Sebelum memasuki proses sharing kreatif, terlebih dulu peserta yang hadir bergantian membacakan puisi-puisi sendiri ataupun puisi penyair nasional. Suasana malam dan aroma keheningan sangat menunjang kesyukukan acara. Ferdi Afrar salah satu peserta Malam Puisi Sidoarjo membacakan puisinya sendiri yang berjudul ‘Pintu’ sebagai pembuka acara. Disusul peserta lain seperti Asoka Ahmad, Denny Novita, dan lainnya yang juga turut merayakan puisi.
Malam Puisi Sidoarjo yang mulus terlaksana di Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Buduran Sidoarjo kali ini mengundang Shabrina WS penulis novel dan fabel dari Sidoarjo yang karyanya sudah bertebaran di toko buku nasional. Pada kesempatan ini, Shabrina berbagi ilmu menulis yang menarik kepada peserta. Menuliskan binatang sebagai salah satu tokoh dalam sebuah novel romance adalah hal yang bisa dibilang rumit tapi mengagumkan. Lebih mengagumkan lagi, karena melalui tulisan ia sembari mengampanyekan kecintaan terhadap satwa dengan cara yang berbeda. ia ingin menyentuh hati manusia agar mencintai satwa melalui karya.
Pada akhir acara, Shabrina menekankan agar tidak jemu berliterasi. “Usahakan selalu membaca dan menulis setiap hari walaupun sebentar dan sedikit,” lontarnya saat ditanya oleh salah satu peserta tentang bagaimana cara konsisten bertahan mencintai literasi. “Jangan lupa, menulislah apa yang kita tahu. Saya menulis tentang binatang, karena saya mencintainya. Saya ingin pembaca tahu, bahwa binatang jelas punya sudut pandang yang berbeda dengan kita,” lanjutnya memberi penjelasan.
Sebagian gambaran
BERITA - INSPIRASI - KEGIATAN
Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya
APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.
Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.
Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.
Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi.
Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.
“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya...
Sumber harian surya.
BERITA - INSPIRASI - KEGIATAN
Untuk acara kali ini dipandu oleh masternya blogger saudara Much Wakhid Mabrur dari Jombang yang kebetulan juga salah satu pengembang budaya baca di daerahnya. Untuk acara kegiatan kali ini kita disupport penuh oleh Kantor perpustakaan dan Arsip Kabupaten Sidoarjo, Dea Wijaya Hotel, Navanda klinik, dan lembaga sosial Bustanul Hikmah.
Melihat antusias para peserta, kita yakin semua akan bisa mengembangkan materi yang sudah didapatkan dalam pelatihan pembuatan blog ini, karena prosesnya sangat mudah, yang penting para peserta mau terus mengembangkan apa yang sudah diberikan.
Muhammad fauzi selaku ketua Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat akan menjadikan agenda pelatihan semacam ini untuk menjadi agenda rutin tahunan seperti tahun-tahun sebelumnya, mengingat pelatihan semcam ini sangat penting untuk selalu diadakan.
BERITA - LOKAL
Alhamdulilah, hari ini 2/14/2016 saya bisa ikut ngaji bareng rekan-rekan ODOJ SIDOARJO yang acaranya digelar di pendopo Alun-Alun Sidoarjo. Dalam acara ini, saya sebagai tamu undangan yang tentunya orang baru dan tidak tau lebih mendalam. Berbekal keberanian dan sedikit wawasan keagamaan saya mengiyakan ketika ada ajakan untuk jadi tamu dalam acara tersebut.
Malu dan agak canggung karena belum terbiasa berkumpul dalam komunitas keagamaan yang dimana mereka adalah orang-orang special bagi saya, betapa tidak ditengah hiruk pikuk keramaian alun-alun sidoarjo dengan gegap gempitanya, mereka tetap bisa melantunkan ayat suci Al-quran.
Ini merupakan pengalaman yang sangat special bagi saya, bisa bertemu dengan banyak orang baru yang punya komitmen untuk mensosialisasikan pentingnya membaca Al-quran. Tidak hanya sampai disitu, saya juga menerima aneka buku bacaan yang dihibahkan oleh teman-teman.
Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain rasa syukur kepada Ilahi robby atas segala nikmat dan anugrahnya.
BERITA - PERISTIWA
Berbicara mengenai UMK, kemarin telah resmi diumumkan tentang upah minimum untuk wilayah Jawa timur oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya pada Sabtu (21/11/2015) dini hari. Dari situ bisa diketahui untuk besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) untuk 38 kabupaten/kota yang berlaku per 1 Januari 2016. Peresmian besaran nilai UMP itu tertuang melalui Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 68 Tahun 2015 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Timur Tahun 2016 tertanggal 20 November 2015.
Adapun (UMK) tertinggi adalah Kota Surabaya
sebesar Rp 3.045.000, diikuti Kabupaten Gresik Rp 3.042.500, Kabupaten Sidoarjo
Rp 3.040.000, Kabupaten Pasuruan Rp 3.037.500, serta Kabupaten Mojokerto Rp
3.030.000. Di susul dengan ( UMK) Kabupaten lain yang nilainya semakin kecil.
Gaung
demonstrasi sudah tidak terdengar keras lagi setelah diumumkannya nilai UMK
tersebut. Hal ini berbeda dengan suasana ketika jauh hari sebelum ditentukannya
nilai UMK, dimana banyak kaum buruh yang menuntut nilai UMK yang lebih besar. Mungkin,
kaum buruh sudah merasa puas dengan ketetapan Gubernur Jawa timur Soekarwo
tersebut. Sehingga para kaum buruh sudah tidak mengadakan demo dengan gelombang
besar untuk menuntut nilai UMK yang lebih besar lagi.
Diluar konteks yang
saya sebutkan diatas “UMK” namun masih tetap berhubungan dengan gaji, yaitu
perihal insentif untuk pengelola Perpustakaan Desa. Selama ini para pengelola
Perpustakaan hanya sebatas dianggap relawan yang dimana mereka hanya
mendapatkan insentif yang nilainya jauh lebih kecil dari UMK yang ada di wilayah
Jawa Timur.
Untuk besaran
insentif para Pengelola Perpustakaan desa, besarannya berbeda-beda yaitu
tergantung pada kebijakan masing-masing kepala Desa. Adapun insentif yang ada
diwilayah Sidoarjo, masih ada pengelola Perpustakaan yang insentifnya tidak
lebih dari 200 ribu. Dan selama ini mereka tidak mampu untuk menyuarakan
keinginan mereka guna mendapatkan insentif yang lebih layak lagi. Karena mereka
juga tidak tahu harus kemanakah mereka berorasi dan berunjuk rasa seperti kaum
buruh yang menuntut kenaikan UMK.
Perihal insentif,
seharusnya ada aturan yang jelas minimal nominalnya sama dimasing-masing wilayah
kabupaten seperti halnya UMK. Karena mereka bisa dikatakan bekerja mencerdaskan
masyarakat melalui buku dan kegiatan lain yang mereka berikan melalui
perpustakaan. Namun alangkah naifnya jika anda tahu, bahwa insentif mereka
rata-rata begitu kecil. Apakah yang demikian itu layak untuk biaya hidup?.
Tentunya tidak, namun mereka tak mampu menuntut. Karena mereka sendiri tidak
tahu harus demo kemana dan pada siapa.
Para Pengelola Perpustakaan ini hanya bisa pasrah dan
menerima apa yang telah diberikan oleh Pemerinatah Desa melalui ADD. Walau
nilainya sangat kecil dan sangat jauh dari kata layak akan tetapi dengan
iming-iming mendapatkan ‘’KMS’’ Kartu Menuju Surga para pengelola ini masih
tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi apakah benar sudah minim sekali
kepedulian dari pemutus kebijakan yang mengatur perihal insentif ini. Minimal
memberikan insentif setengah dari UMK itu dah bagus menurut saya.
Adapun salah satu faktor tidak berkembangnya perpustakaan
desa bisa dikatakan karena kecilnya
insentif yang diberikan Pemerintah desa kepada pengelola Perpustakaan. Para
pengelola ini juga terkadang menilai menjadi pengelola hanya semacam kegiatan
sosial biasa, yang membutuhkan keihklasan tinggi. Bahkan tak jarang pengelola
perpustakaan yang ada di desa sering berganti orang yang mengelola, karena
pengelola sebelumnya harus mencari pekerjaan yang lebih layak dari segi gaji.
Sungguh sangat ironis sekali, disaat pemerintah gembar-gembor
menyuarakan budaya literasi dan peningkatan minat baca. Tapi para pengelola
didalamnya tidak ada perhatian dari segi insentif. Saya yakin walau insentifnya
kecil, atau tidak ada sekalipun, pengembangan budaya baca masih tetap bisa
berjalan karena mereka tulus mengembangkan budaya baca. Tapi saya yakin pula
bahwa ketika para pengelola mendapatkan insentif layak, maka kinerja mereka
akan lebih maksimal lagi, karena mereka sudah tidak lagi terbebani memikirkan
cara mencari untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Karena mereka sudah mendapatkan
insentif layak, jadi mereka bisa lebih fokus dalam kegiatan pengembangan budaya
baca.
Untuk masalah insentif pengelola Perpustakaan, kota Surabaya bisa
dijadikan rujukan. Karena Surabaya satu-satunya kota yang memberikan insentif
layak yaitu besarannya sesuai dengan UMK Surabaya. Jika memang daerah lain
belum mampu sama, setidaknya besarannya juga sama dengan mengacu pada UMK
masing-masing daerah. Saya yakin, jika memang Surabaya bisa, maka tidak menutup
kemungkinan daerah lain juga bisa sesuai dengan batas kemampuan masing-masing
daerah.
Tapi yang saya temui realitanya, masih belum ada daerah diluar
Surabaya yang bisa memberikan setengahnya saja dari UMK masing-masing wilayah
untuk insentif para pengelola Perpustakaan desa. Dan inilah yang sering
menjadi pertanyaan kami para pengelola Perpustakaan desa, apakah memang betul
daerah kita tidak mampu menggaji kita dari setengahnya UMK saja, ataukah sudah
tidak peduli pada gerakan pengembangan budaya baca dan lebih menjadikan Perpustakaan
sebagai pelengkap program pemerintah semata.
BERITA
Berbicara mengenai pengembangan budaya baca, tentunya semua pasti punya kendala. Ada yang sudah usaha sampai mentok namun tetap tak bisa menambah koleksi buku. Ada pula yang gak bisa menambah dan malah koleksi bukunya malah berkurang. Sedih bukan jika melihat fenomena seperti ini.
Seperti yang pernah saya tuliskan pada trik mendirikan perpustakaan untuk pos dibulan lalu, kali ini saya akan berbagi link dimana kita bisa mengajukan bantuan buku tanpa harus ribet dan berbelit, bahkan tanpa modal, cukup via internet doank. Mudah bukan?
Eiiitsss....
Sabar dulu. Ini adalah link yang pertama, silahkan ikuti segala aturan, dijamin kagak ribet kok. Sajubu ini bisa dijadikan target pertama. Nih saya kasih link KLIK DISINI jangan lupa masuk ke grub mereka difacebook cari sendiri yah, klik saja dikolom pencarian.
Untuk yang kedua saya akan bawa anda ke 1001 buku, lumayan juga loh bantuan bukunya. Tinggal ikuti langkahnya. Sabar untuk yang satu ini, kolom pengisian tingal donload dan diisi lalu kirimkan keimel 1001 buku. Nih link mereka untuk langsung registrasi klik DISINI. Jangan lupa baca yang detail.
Berikutnya saya ajak untuk jalan-jalan kesalah satu website yang juga peduli pada minat baca, dengan harapan melalui dunia baca masyarakat bisa lebih mampu dalam turut berperan menjaga lingkungannya. Ini adalaha website pecinta alam, jadi buku-buku bantuanya bertemakan lingkungan. KLIK DISINI.
Untuk kamu yang gak ngerti bahasa inggris kayak diriku, kamu bisa klik gambar bendera di pojok atas, sebelah kolom warna hitam apply for eco library. Jadi kamu gak perlu pake google translet. Setelah klik menjadi bahasa indonesia, kamu langsung bisa isi pengajuan ditempat, tanpa harus kirim imel ulang atau donload.
Itu beberapa tempat atau lembaga yang dimana kita bisa mengajukan proposal onlin dan gak pake ribet. Namun perlu diketahui, semua itu ada proses antrian hehehe maklum yang ngajuin proposal online banyak.
Jika memang pingin berupa bantuan yang lain, saya sarankan untuk mencoba diwebsite berikut, klik disini tapi diwebsite ini, prosesnya agak ribet, kalo kita lum terbiasa dengan isian data, sebaiknya harus santai bisa sembari facebookan, twitter atau lain-lain. Gak boleh pening hehehhe. Ini gambaran tampilan depan halaman yang saya maksut, silahkan lakukan fundraising. SELAMAT MENCOBA, SEMOGA PERPUSTAKAAN ANDA SEMAKIN LEBIH BAIK. NOTE JANGAN LUPA SHARE BIAR YANG LAIN JUGA PAHAM. BERBAGI ILMU GAK AKAN ADA RUGINYA. LIKE DAN SHARE YAAAAAA.
SALAM
#sak_iki_jamane_moco
BERITA - CATATAN
Langganan:
Postingan (Atom)

















